Lebih Dekat dengan Freddy Mudjiantono (3/4)

Sempat Ditolak Karena Tak Anti-Racun

TAK banyak yang tahu bahwa Vilour juga bergerak di bidang industry kayu. Awalnya, seorang teman Freddy dari Palu membawa sebongkah kayu ebony. Melihat kayu yang memiliki tekstur indah itu, ia langsung jatuh hati.

Ebony merupakan satu-satunya kayu yang berat jenisnya melebihi berat jenis air sehingga ebony tidak akan muncul di permukaan air. Keistimewaan inilah, yang kemudian menuntun Freddy terjun ke bisnis industri kayu.

Desember 1998, terciptalah Vilour divisi kayu di Gunung Batu, Cimahi. Sedangkan showroom meubelnya sendiri berada di kawasan Gegerkalong Bandung, satu gedung dengan perusahaan country milik Freddy dan Tantowi Yahya, PT Adjani Cipta Usaha. Vilour divisi kayu tersebut, diakui Freddy, telah memiliki kantor cabang di Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Pekanbaru.

Salah satu produk andalan Vilour divisi kayu adalah ihai, dan merupakan satu-satunya produk Vilour yang diekspor ke luar Indonesia, yakni Jepang. Ihai adalah papan nama layaknya nisan yang biasa digunakan penganut agama Shinto saat mendoakan kerabatnya yang telah meninggal dunia.

Ide memproduksi ihai, menurut Freddy, muncul saat seorang tamu dari Jepang datang padanya seraya membawa ihai dan mencari kayu yang cocok sebagai bahan dasar ihai. Saat itu, di benaknya hanya kayu ebony yang terpikir akan cocok dan disukai konsumen dari Jepang.

Dengan mempekerjakan tukang ukir dari Jepara, Freddy membuat dan mengirimkan 500 buah ihai ke negara sakura tersebut. Namun, setelah sampai ke Jepang, mereka menolak dan langsung mengembalikan ke Indonesia. Kerugian Vilour saat itu mencapai 30 juta rupiah.

“Pasalnya, mereka menginginkan pelapis ihai yang anti-racun. Terlebih saat mendoakan kerabat yang meninggal, air mata sering jatuh pada permukaan ihai dan memunculkan reaksi kimia tertentu,” tutur Freddy yang tidak menyesalkan kerugian tersebut karena baginya, hal itu merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi kelangsungan produksi ihai selanjutnya.

Setelah kejadian itu, Freddy merombak habis 500 ihai yang dikembalikan tersebut, dan melakukan finishing touch sesuai keinginan konsumen Jepang. Hasilnya, sampai saat ini Vilour mengirim lebih dari seribu buah ihai ke Jepang setiap bulannya.

“Kami memproduksi 12 grade ihai yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi warga Jepang. Di sana, pilihan ihai menentukan kondisi ekonomi pembelinya. Semakin kaya seseorang maka ihai yang dipajang akan semakin bagus dan mahal. Otomatis, tekstur ebonynya semakin indah,” tutur mantan pengacara ini. (uwa/job-3)

*Feature dimuat di Harian Radar Bandung, pada rubrik Tokoh, Minggu, 26 Februari 2006.

Advertisement

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.